Selasa, 03 Januari 2012

Asuhan keperawatan luka bakar


Luka Bakar
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para medis. Jenis yang berat memperlihatkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi dibanding dengan cedera oleh sebab lain.
Penyebab luka bakar selain terbakar api langsung atau tidak langsung, juga pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik maupun bahan kimia. Luka bakar karena api atau akibat tidak langsung dari api, misalnya tersiram air panas banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga.
Patofisiologi Luka bakar
Luka bakar disebabkan karena pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi elektromagnetik. Luka bakar dapat dikelompokkan menjadi luka bakar termal, radiasi dan kimia. Destruksi jaringan terjadi akibat koagulasi, denaturasi protein dan ionisasi isi sel. Kulit dan mukosa saluran napas atas merupakan lokasi destruksi jaringan. Jaringan yang dalam, termasuk organ visera, dapat mengalami kerusakan karena karena luka bakar elektrik atau kontak yang lama dengan agen penyebab (burning agen). Nekrosis atau kegagalan organ dapat terjadi.
Dalamnya luka bakar tergantung pada suhu agen penyebab luka bakar dan lamanya kontak dengan agen penyebab luka bakar tersebut. Suhu yang kurang dari 400C dapat ditoleransi dalam periode waktu yang lama tanpa menyebabkan luka bakar.
Perawatan luka bakar harus direncanakan menurut luas dan dalamnya, kemudian perawatannya dilakukan dengan tiga fase luka bakar, yaitu: fase darurat/resusitasi, fase akut atau intermediate dan fase rehabilitasi.
Fase
Durasi
Prioritas
Fase resusitasi yang darurat/segera
Dari awitan cedera hingga selesainya resusitasi cairan
Pertolongan pertama
Pencegahan syok
Pencegahan gangguan pernapasan
Deteksi dan penanganan cedera yang menyertai
Penilaian luka dan perawatan pendahuluan
Fase akut
Dari dimulainya diuresis hingga hamper selesainya proses penutupan luka
Perawatan dan penutupan luka
Pencegahan/penanganan komplikasi termasuk infeksi
Dukungan nutrisi
Fase rehabilitasi
Dari penutupan luka yang besar hingga kembalinya kepada tingkat penyesuaian fisik dan psikososial yang optimal
Pencegahan parut&kontraktur
Rehabilitasi fisik, oksupasional&vokasional
Rekonstruksi fungsional&kosmetik
Konseling psikologi
Derajad Luka bakar
Kedalaman luka bakar tergantung oleh tingginya suhu dan lamanya pajanan suhu tinggi. Selain api yang langsung menjilat tubuh, bajuyang ikut terbakar juga memperdalam luka bakar. Bahan baju yang paling aman adalah yang terbuat dari bulu domba (wol). Bahan sintesis seperti nilon dan dakron selain mudah terbakar juga mudah lumer oleh suhu tinggi, lalu menjadi lengket sehingga memperberat derajat kedalaman.
Luka bakar dapat diklasifikasikan menurut jaringan yang rusak:
Kedalaman & derajat luka bakar
Bagian kulit yang terkena
Gejala
Penampilan luka
Perjalanan kesembuhan
Derajat satu (superficial)
Tersengat matahari
Terkena api dengan intensitas rendah
Epidermis
Kesemutan
Hiperestesia (supersensitive)
Rasa nyeri mereda bila didinginkan
Memerah, menjadi putih bila ditekan
Minimal atau tanpa edema
Kesembuhan lengkap dalam 1 minggu
Pengelupasan kulit
Derajat dua (Partial Thickness)
Tersiram air mendidih
Terbakar oleh nyala api
Epidermis dan bagian dermis
Nyeri
Hiperestesia
Sensitif terhadap udara yang dingin
Melepuh dasar luka berbintik-bintik merah, epidermis retak, permukaan luika basah
Edema
Kesembuhan dalam 2-3 minggu
Pembentukan parut&depigmentasi
Infeksi dpt mengubahnya mjd derajat tiga
Derajat tiga (Full Thickness)
Terbakar nyala api
Terkena cairan mendidih dalam waktu yang lama
Tersengat arus listrik
Epidermis, keseluruhan dermis dan kadang-kadang jaringan subkutan
Tidak terasa nyeri
Syok
Hematuria&kemungkinan hemolisis
Kemungkinan terdapat luka masuk dan keluar (pada luka baker listrik)
Kering, luka baker berwarna putih seperti bahan kulit atau gosong
Kulit retak dengan bagian lemak yang nampak
Edema
Pembentukan esker
Diperlukan pencangkokan
Pembentukan parut&hilangnya kontur serta fungsi kulit
Hilangnya jari tangan atau ekstremitas dapat terjadi
Umumnya luka bakar memiliki kedalaman yang tidak seragam. Ketika dinilai, luka bakar biasabya mencakup daerah-daerah cedera superfisial pada bagian perifer luka dengan peningkatankedalaman di sebelah proksimal. Setiap daerah memiliki 3 zona cedera. Daerah yang sebelah dalam mengalami kerusakan yang paling parah, sedangkan zona yang sebelah luar kerusakannya paling ringan. Daerah sebelah dalam dikenal sebagai zona koagulasi dimana terjadi kerusakan seluler. Daerah yang tengah disebut zona statis tempat terjadinya gangguan suplai darah, inflamasi dan cedera jaringan. Daerah ini masih dapat diselamatkan sampai derajat tertentu dengan resusitasi cairan yang berhasil baik. Daerah sebelah luar merupakan zona hyperemia. Zona ini merupakan luka baker derajat satu yang harus sembuh dalam waktu 1 minggu dan lebih khas untuk cedera terbakar atau tersengat arus listrik ketimbang cedera akibat cairan yang panas.
Dalam menentukan dalamnya luka bakar, yang harus diperhatikan yaitu faktor-faktor:
    1. Riwayat terjadinya luka bakar
    2. Penyebab luka bakar
    3. Suhu agen yang menyebabkan luka bakar
    4. Lamanya kontak dengan agen
    5. Tebalnya kulit
Luas Permukaan Tubuh yang Terbakar
Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. Pada orang dewasa digunakan “rumus 9”, yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, perut, pinggang dan bokong, ekstremitas atas kiri, paha kanan paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%, sisanya 1% adalah daerah genetalia. Rumus ini membantu menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa.
Pada anak dan dewasa digunakan rumus lain karena luas relative permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relative permukaan kaki lebih kecil. Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda dikenal rumus 10 untuk bayi dan rumus 10-15-20 untuk anak.
Untuk anak, kepala dan leher 15%, bagian depan dan belakang masing-masing 20%, ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 10%, ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 15%.
Selain dalamnya dan luas permukaan, prognosis dan penanganan ditentukan oleh letak daerah yang terbakar, usia dan keadaan kesehatan penderita. Daerah perineum, ketiak, leher dan tangan sulit perawatannya antara lain karena mudah mengalami kontraktur.
Karena bayi dan orang usia lanjut daya kompensasinya lebih rendah, maka bila terbakar, digolongkan dalam golongan berat.
Perawatan Luka Bakar
Perawatan di Tempat Kejadian
            Prioritas pertama dalam perawatan di tempat kejadian bagi seorang korban luka bakar adalah mencegah agar orang yang menyelamatkan tidak turut mengalami luka bakar.
1.      Mematikan api
Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen bagi api yang menyala. Korban dapat mengusahakan dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling dan mencegah meluasnya bagian pakaian yang terbakar. Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat diakhiri missal dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin atau melepaskan baju yang tersiram air panas. Jika sumber luka bakarnya adalah arus listrik, sumber listrik harus dipadamkan.
2.      Mendinginkan luka baker
Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus setelah api dipadamkan sehingga destruksi tetap meluas. Proses ini dapat dihentikan dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin ini pada jam pertama. Oleh karena itu merendam bagian yang terbakar selama lima belas menit pertama dalam air sangat bermanfaat untuk menurunkan suhu jaringan sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil. Dengan demikian luka yang sebenarnya menuju derajat II dapat dihentikan pada derajat I atau luka yang menjadi derajat III dihentikan pada tingkat I atau II. Pencelupan atau penyiraman dapat dilakukan dengan air apa saja yang dingin sekurang-kurangnya 15 menit.
3.      Melepaskan benda penghalang
Meskipun pakaian yang menempel pada luka bakar dapat dibiarkan, pakaian lain dan semua barang perhiasan harus segera dilepaskan untuk melakukan penilaian serta mencegah terjadinya kontriksi sekunder akibat edema yang timbul dengan cepat.
4.      Menutup luka bakar
Luka bakar harus ditutup secepat mungkin untuk memperkevil kemungkinan kontaminasi bakteri dan mengurangi nyeri dengan mencegah aliran udara agar tidak mengenai permukaan kulit yang terbakar.
5.      Mengirigasi Luka bakar kimia
Luka bakar kimia akibat bahan korosif harus segera dibilas dengan air mengalir. Jika mengenai mata harus segera dicuci dengan air bersih yang sejuk.
Penatalaksanaan Kehilangan Cairan dan Syok
Setelah menangani kesulitan pernapasan, kebutuhan yang paling mendesak adalah mencegah terjadinya syok irreversible dengan menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang.
Perubahan cairan dan Elektrolit Pada Fase Emergensi/Resusitasi dalam Perawatan Luka Bakar
Fase Akumulasi Cairan (Fase Syok)
Plasma menuju cairan interstisial (Edema pada tempat yang terbakar)
Observasi
Penjelasan
Dehidrasi yang menyeluruh
Berkurangnya volume darah
Berkurangnya haluran urin
Kadar K+ yang berlebihan
Kadar Na+ yang kurang/deficit
Asidosi metabolic (deficit basa bikarbonat)
Hemokonsentrasi (Kenaikan hematokrit)
Plasma mengalir keluar (bocor) lewat pembuluh darah kapiler yang rusak
Terjadi sekunder akibat hilangnya plasma penurunan tekanan darah dan berkurangnya curah jantung
Terjadi sekunder akibat:
-          kehilangna aliran darah renal
-          kehilangan cairan
-          Retensi Na&air karena peningkatan kortek adrenal (hemolisis sel darah merah yang menyebabkan hemoglobinuria&mionekrosis/mioglobinuria)
Trauma seluler yang massif menyebabkan pelepasan ion K+ ke dalam cairan ekstraseluler
Sejumlah besar ion Na+ hilang dalam cairan edema yang terperangkap dan mengalami eksudasi serta berpindah ke dalam sel ketika ion K+ dilepas dari dalam sel
Kehilangan ion-ion bikarbonat menyertai kehilangan natrium
Komponen darah yang cair mengalir ke dalam ruang ekstravaskuler
Selang infus dan kateter urin harus sudah terpasang sebelum resusitasi cairan dimulai. Hasil pengukuran BB dan tes laboratorium juga dicatat dan dipantau secara ketat.
Penggantian Cairan
Kebutuhan cairan yang diproyeksikan dalam 24 jam pertama dihitung oleh dokter berdasarkan luas luka baker. Beberapa kombinasi kategori cairan dapat digunakan (1) koloid-whole blood, plasma serta plasma ekpander, dan (2) kristaloid/elektrolit-larutan natrium klorida fisiologik atau larutan ringer laktat. Resusitasi cairan yang adequate menghasilkan sedikit penurunan volume darah selama 24 jam pertama pasca luka bakar dan mengembalikan kadar plasma dalam nilai yang normal pada akhir periode 48 jam.
Pedoman Rumus untuk Penggantian Cairan Pada Pasien Luka Bakar
Rumus Konsensus
Larutan Ringer Laktat (atau larutan saline seimbang lainnya): 2-4 ml X kg BB X % luas luka baker.
Separuh diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam selanjutnya.
Rumus Evans
1.      Koloid: 1ml X kg BB X % luas luka baker
2.      Elektrolit (saline): 1ml X kg BB X % luas luka baker
3.      Glukosa (5% dalam air): 2000ml untuk kehilangan insensible
Hari 1: Separuh diberikan dalam 8 jam pertama, separuh sisanya dalam 16 jam selanjutnya.
Hari 2: Separuh dari cairan elektrolit dan koloid yang diberikan pada hari sebelumnya, seluruh penggantian cairan insensible.
Maksimum 10.000 selama 24 jam. Luka baker derajat II dan III yang melebihi 50% luas permukaan tubuh dihitung berdasarkan 50% luas permukaan tubuh.
Rumus Brooke Army
1.      Koloid: 0,5ml X kg BB X % luas luka baker
2.      Elektrolit (larutan ringer laktat): 1,5ml X kg BB X % luas luka baker
3.      Glukosa (5% dalam air): 2000ml untuk kehilangan insensible
Hari 1: Separuh diberikan dalam 8 jam pertama, separuh sisanya dalam 16 jam selanjutnya.
Hari 2: Separuh dari cairan koloid, separuh elektrolit, seluruh penggantian cairan insensible.
 Luka baker derajat II dan III yang melebihi 50% luas permukaan tubuh dihitung berdasarkan 50% luas permukaan tubuh.
Rumus Parkland/Baxter
Larutan ringer laktat: 4ml X kg BB X luas luka baker
Hari 1: Separuh diberikan dalam 8 jam pertama, separuh sisanya dalam 16 jam selanjutnya.
Hari 2: Bervariasi. Ditambahkan koloid
Larutan Salin Hipertonik
Larutan pekat natrium klorida dan laktat dengan konsentrasi 250-300 mEq natrium perLiter yang diberikan pada kecepatan yang cukup untuk mempertahankan volume keluaran urin yang diinginkan. Jangan meningkatkan kecepatan infuse selama 8 jam pertama pasca luka baker. Kadar natrium serum harus dipantau dengan ketat. Tujuan: meningkatkan kadar natrium serum dan osmolalitas untuk mengurangi edema dan mencegah komplikasi paru.
Obat-obatan
Antibiotik sistemik spectrum luas diberikan untuk mencegah infeksi. Yang banyak dipakai adalah golongan aminoglikosida yang efektif terhadap pseudomonas. Bila ada infeksi, antibiotic diberikan berdasarkan hasil biakan dan uji kepekaan kuman. Antasida diberikan untuk pencegahan tukak stress dan antipiretik diberikan bila suhu tinggi.
Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan keseimbangan nitrogen yang negative pada fase katabolisme, yaitu sebanyak 2500-3000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi. Kalau perlu makanan diberikan melalui pipa lambung atau ditambah parenteral.
Penderita yang mulai stabil keadaannya perlu fisioterapai untuk memperlancar peredaran darah dan mencegah kekakuan sendi.
Penderita luka baker harus dipantau terus-menerus, keberhasilan pemberian cairan dapat dilihat dari diuresis normal yaitu sekurang-kurangnya 1ml/kgBB/jam. Yang penting juga apakah sirkulasi normal/tidak



Insect Bites


Insect Bites
Insect Bites adalah gigitan atau serangan serangga. Gigitan serangga seringkali menyebabkan bengkak, kemerahan, rasa sakit (senut-senut), dan gatal-gatal. Reaksi tersebut boleh dibilang biasa, bahkan gigitan serangga ada yang berakhir dalam beberapa jam sampai berhari-hari. Bayi dan anak-anak labih rentan terkena gigitan serangga dibanding orang dewasa.
Insect bites adalah gigitan atau sengatan serangga. Insect bites adalah gigitan yang diakibatkan karena serangga yang menyengat atau menggigit seseorang.
Beberapa contoh masalah serius yang diakibatkan oleh gigitan atau serangan serangga di antaranya adalah:
1. Reaksi alergi berat (anaphylaxis).
Reaksi ini tergolong tidak biasa, namun dapat mengancam kehidupan dan membutuhkan pertolongan darurat. Tanda-tanda atau gejalanya adalah:
·         Terkejut (shock). Dimana ini bisa terjadi bila sistem peredaran darah tidak mendapatkan masukan darah yang cukup untuk organ-organ penting (vital)
·         Batuk, desahan, sesak nafas, merasa sakit di dalam mulut atau kerongkongan/tenggorokan
·         Bengkak di bibir, lidah, telinga, kelopak mata, telapak tangan, tapak kaki, dan selaput lendir (angioedema)
·         Pusing dan kacau
·         Mual, diare, dan nyeri pada perut
·         Rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak
Gejala tersebut dapat diikuti dengan gejala lain dari beberapa reaksi.
2. Reaksi racun oleh gigitan atau serangan tunggal dari serangga.
 Serangga atau laba-laba yang menyebabkan hal tersebut misalnya:
·         Laba-laba janda (widow) yang berwarna hitam
·         Laba-laba pertapa (recluse) yang berwarna coklat
·         Laba-laba gembel (hobo)
·         Kalajengking
3. Reaksi racun dari serangan labah, tawon, atau semut api.
Seekor lebah dengan alat penyengatnya di belakang lalu mati setelah menyengat. Lebah madu afrika, yang dinamakan lebah-lebah pembunuh, mereka lebih agresif dari pada lebah madu kebanyakan dan sering menyerang bersama-sama dengan jumlah yang banyak
Tawon, penyengat dan si jaket kuning (yellow jackets), dapat menyengat berkali-kali. Si jaket kuning dapat menyebabkan sangat banyak reaksi alergi
Serangan semut api kepada seseorang dengan gigitan dari rahangnya, kemudian memutar kepalanya dan menyengat dari perutnya dengan alur memutar dan berkali-kali
4. Reaksi kulit yang lebar pada bagian gigitan atau serangan.
5. infeksi kulit pada bagian gigitan atau serangan.
6. Penyakit serum (darah)
Sebuah reaksi pada pengobatan (antiserum) digunakan untuk mengobati gigitan atau serangan serangga. Penyakit serum menyebabkan rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak serta diiringi gejala flu tujuh sampai empat belas hari setelah penggunaan anti serum.
7. Infeksi virus.
Infeksi nyamuk dapat menyebarkan virus West Nile kepada seseorang, menyebabkan inflamasi pada otak (encephalitis).
8. Infeksi parasit.
Infeksi nyamuk dapat menyebabkan menyebarnya malaria.
Penyebab
Serangga tidak akan menyerang kecuali kalau mereka digusar atau diganggu. Kebanyakan gigitan dan sengatan digunakan untuk pertahanan. Gigitan serangga untuk melindungi sarang mereka.
Sebuah gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan bisa(racun) yang tersusun dari protein dan substansi lain yang mungkin memicu reaksi alergi kepada penderita. Gigitan serangga juga mengakibatkan kemerahan dan bengkak di lokasi yang tersengat.Lebah, tawon, penyengat, si jaket kuning, dan semut api adalah anggota keluarga Hymenoptera. Gigitan atau sengatan dari mereka dapat menyebabkan reaksi yang cukup serius pada orang yang alergi terhadap mereka. Kematian yang diakibatkan oleh serangga 3-4 kali lebih sering dari pada kematian yang diakibatkan oleh gigitan ular. Lebah, tawon dan semut api berbeda-beda dalam menyengat.
Ketika lebah menyengat, dia melepaskan seluruh alat sengatnya dan sebenarnya ia mati ketika proses itu terjadi. Seekor tawon dapat menyengat berkali-kali karena tawon tidak melepaskan seluruh alat sengatnya setelah ia menyengat.
Semut api menyengatkan bisanya dengan menggunakan rahangnya dan memutar tubuhnya. Mereka dapat menyengat bisa berkali-kali.
Gejala
Gejala dari gigitan serangga bermacam-macam dan tergantung dari berbagai macam faktor yang mempengaruhi. Kebanyakan gigitan serangga menyebabakan kemerahan, bengkak, nyeri, dan gatal-gatal di sekitar area yang terkena gigitan atau sengatan serangga tersebut. Kulit yang terkena gigitan bisa rusak dan terinfeksi jika daerah yang terkena gigitan tersebut terluka. Jika luka tersebut tidak dirawat, maka akan mengakibatkan peradangan akut.
Rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak, desahan, sesak napas, pingsan dan hampir meninggal dalam 30 menit adalah gejala dari reaksi yang disebut anafilaksis. Ini juga diakibatkan karena alergi pada gigitan serangga.
Gigitan serangga juga mengakibatkan bengkak pada tenggorokan dan kematian karena gangguan udara.
Sengatan dari serangga jenis penyengat besar atau ratusan sengatan lebah jarang sekali ditemukan hingga mengakibatkan sakit pada otot dan gagal ginjal.

Pengobatan
Jika terjadi gejala seperti di atas maka carilah pengobatan. Gejala tersebut bisa jadi anafilaksis fatal.
Rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak adalah gejala yang paling sering ditemui. Paling sering ini diobati di rumah dengan antihistamin.
Jika gigitan menyebabkan infeksi (kemerahan dengan atau tanpa nanah, suhu tubuh tinggi, demam, atau kemerahan di tubuh), pergilah ke dokter.
Jika tidak diketahui apa yang menggigit, sangat penting untuk menjaga area yang digigit agar tidak terjadi infeksi. Hubungi dokter jika ada luka yang terbuka, mungkin itu sengatan racun laba-laba.
Seseorang yang mempunyai riwayat tergigit atau tersengat serangga harus pergi ke rumah sakit terdekat jika mendapati gejala lain. Sedang orang yang tidak mempunyai riwayat tergigit serangga juga harus ke bagian gawat darurat jika:
1. Mendesah
2. Sesak nafas
3. Dada sesak atau sakit
4. Tenggorokan sakit atau susah berbicara
5. Pingsan atau lemah
6. Infeksi
Redakan sakitnya dengan salep (beberapa jenis salep tersedia di apotek dan toko obat terdekat) atau dengan kompres dingin.Jika Anda tahu bahwa Anda atau anak Anda alergi terhadap gigitan atau sengatan serangga, mintalah nasihat dokter tentang tindakan pencegahannya. Jangan mencabut sengat lebah. Hilangkan dengan ujung kuku atau pisau.

Pengobatan pribadi di rumah

Pengobatan tergantung pada jenis reaksi yang terjadi. Jika hanya kemerahan dan nyeri pada bagian yang digigit, cukup menggunakan es sebagai pengobatan. Bersihkan area yang terkena gigitan dengan sabun dan air untuk menghilangkan partikel yang terkontaminasi oleh serangga (seperti nyamuk). Partikel-partikel dapat mengkontaminasi lebih lanjut jika luka tidak dibersihkan.

Pengobatan dapat juga menggunakan antihistamin seperti diphenhidramin (Benadryl) dalam bentuk krim/salep atau pil.
Losion Calamine juga bisa membantu mengurangi gatal-gatal.











GIGITAN ULAR
Definisi
Suatu keadaan yang disebabkan oleh gigitan ular berbisa. Dari gigitan / dipatuk ular berbisa akan menyebabkan rasa sakit yang amat sangat pada bagian yang dipatuk itu, dimana bengkak dan merah nampak pada kulit. Dalam waktu kurang dari setengah jam, penderita akan menjadi lemas, muntah, banyak ludah keluar, lumpuh / kejang, lidah dan alat suara serta pernapasan jadi lumpuh, dalam hal ini susunan syaraf yang banyak mengalami penderitaan. Bila lumpuh mulai hilang sebelum datangya kematian, kemungkina besar dia dapat sembuh tanpa pertolongan. Bila lumpuh tidak hilang, segeralah lakukan pertolongan sebelum terlambat.

Penyebab
Secara garis besar ular berbisa dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok:
ü      Colubridae (Mangroce cat snake, Boiga dendrophilia, dan lain-lain)
ü      Elapidae (King cobra, Blue coral snake, Sumatran spitting cobra, dan lain-lain)
ü      Viperidae (Borneo green pit viper, Sumatran pit viper, dan lain-lain).

Gambaran Klinis
~        Umumnya gigitan ular tidak beracun, misalnya ular air dan hanya memerlukan tata laksana sederhana. Namun bila jenis ular tidak diketahui, maka sebaiknya dilakukan upaya pencegahan dengan Serum Anti Bisa Ular Polivalen.
~        Kemungkinan ini dicurigai bila ada riwayat digigit ular.
~        Penderita mungkin:
§         Tampak kebiruan
§         Pingsan
§         Lumpuh
§         Sesak nafas
Efek yang ditimbulkan akibat gigitan ular dapat dibagi tiga:
1. Efek lokal.
Beberapa spesies seperti coral snakes, krait akan memberikan efek yang agak
sulit di deteksi dan hanya bersifat minor tetapi beberapa spesies, gigitannya
dapat menghasilkan efek yang cukup besar seperti: bengkak, melepuh,
perdarahan, memar sampai dengan nekrosis. Yang mesti diwaspadai adalah
terjadinya syok hipovolemik sekunder yang diakibatkan oleh berpindahnya
cairan vaskuler ke jaringan akibat efek sistemik bisa ular tersebut.
2. Efek sistemik
Gigitan ular ini akan menghasilkan efek yang non-spesifik seperti: nyeri kepala,
mual dan muntah, nyeri perut, diare sampai pasien menjadi kolaps. Gejala
yang ditemukan seperti ini sebagai tanda bahaya bagi petugas kesehatan untuk memberi petolongan segera.
3. Efek sistemik spesifik
Efek sistemik spesifik dapat dibagi berdasarkan:
· Koagulopati
Beberapa spesies ular dapat menyebabkan terjadinya koagulopati. Tandatanda
klinis yang dapat ditemukan adalah keluarnya darah terus menerus
dari tempat gigitan, venipuncture dari gusi dan bila berkembang akan
menimbulkan hematuria, haematomesis, melena dan batuk darah.
· Neurotoksik
Gigitan ular ini dapat menyebabkan terjadinya flaccid paralysis. Ini biasanya
berbahaya bila terjadi paralisis pada pernafasan. Biasanya tanda-tanda
yang pertama kali dijumpai adalah pada saraf kranial seperti ptosis,
oftalmoplegia progresif bila tidak mendapat anti venom akan terjadi
kelemahan anggota tubuh dan paralisis pernafasan. Biasanya full paralysis
akan memakan waktu + 12 jam, pada beberapa kasus biasanya menjadi
lebih cepat, 3 jam setelah gigitan.
· Miotoksisitas
Miotoksisitas hanya akan ditemukan bila seseorang diserang atau digigit
oleh ular laut. Ular yang berada didaratan biasanya tidak ada yang
menyebabkan terjadinya miotoksisitas berat. Gejala dan tanda adalah :
nyeri otot, tenderness, mioglobinuria dan berpotensi untuk terjadinya gagal
ginjal, hiperkalemia dan kardiotoksisitas.
Diagnosis
Adanya riwayat gigitan disertai gejala/tanda gigitan ular berbisa baik berupa efek
lokal (tempat gigitan) maupun efek sistemik dan efek sistemik spesifik.
Penatalaksanaan
Pada saat dalam kepanikan karena digigit oleh ular apalagi telah diketahui bahwa ular tersebut sangat berbisa, maka kadang-kadang orang tidak lagi berpikir secara rasional karena stress dan karena pengaruh dari racun ular tersebut.
§      Tenang jangan  panik !!
§      Tidak terlalu banyak bergerak apalagi menggerakkan bagian tubuh yang  kena gigitan ular
§      Anjurkan pasien untuk tenang.
§      Bawa pasien yang mempunyai fasilitas kesehatan yang memadai.
§      Sedapat mungkin mengidentifikasi jenis ular yg menggigit, kalau tahu nama sebenarnya akan jauh lebih membantu, kalaupun tidak jangan dipaksakan mengejar ular tersebut nanti
malah bisa digigit dua kali lagi.
§      Bila yang digigit anggota badan, gunakan tali putar silang disebelah atas luka.Putar tali sedemikian kencang sampai denyut nadi di ujung anggota hampir tidak teraba. Ikatan dikendorkan tiap 15 menit selama 1 menit.
§      Jika gigitan terjadi dalam waktu kurang dari setengah jam, buatlah sayatan silang ditempat gigitan sampai darah keluar dan sedotlah dengan alat penyedot, jangan sekali-kali dengan mulut.
§       Jangan ditoreh/dilukai/dirobek
§      Kalau masih memungkinkan segera setelah kena gigit bagian tubuh yang kena gigit dihisap kuat dengan  alat-alat tertentu sepert “extractor” asalkan tidak melukai atau dan jangan melakukan hisapan dengan mulut karena berbahaya dan bisa  terminum/masuk kedalam mulut
§      Bersihkan bagian tubuh yang kena gigit dengan antiseptik untuk mengindari infeksi, karena dalam beberapa kasus, bahaya infeksi malah jauh lebih berbahaya dari racun ular itu sendiri.
§      Ikat atau balut di atas dan dibawah bagian tubuh yang kena gigit dengan perban, tetapi jangan terlalu kencang, rasakan saja sendiri untuk sedikit memperlambat peredaran darah tetapi tetap bisa mensuplai darah. Bila timbul gejala umum seperti syok, lumpuh dan sesak nafas, penderita harus segera rujuk ke rumah sakit. Satu-satunya perawatan yang dianjurkan atas gigitan ular adalah memberikan kompres dingin, menjaga korban agar tetap tenang dan membawanya ke rumah sakit sesegera mungkin.
§      Bila tersedia, suntikkan serum Anti Bisa Ular (ABU) polivalen i.v dan disekitar luka. ATS dan penisilin procain 900.000 IU dapat dipertimbangkan sebagai profilaksis.
Secara umum orang awam kalo digigit ular berbisa biasanya melakukan hal-hal sbb:
- Mengikat dengan keras bagian tubuh (di atas/bawah) yang kena gigit
- menoreh bagian tubuh yang kena gigit
- mengisap darah pada bagian tubuh yang kena gigit
- atau membawanya ke tempat dukun ular/pawang ular
     
Hal-hal yang dilakukan tersebut tidak sepenuhnya salah cuman barangkali perlu lebih dilakukan dengan cara yang lebih baik. Pada banyak kasus-kasus gigitan ular, sebagian dari mereka ada yang tidak sadar kalau mereka itu telah digigit oleh ular yang sangat berbisa sehingga tidak melakukan pengobatan dan kemudian karena tidak ada pertolongan sama sekali akhirnya meninggal dunia.
   
Biasanya ular yang menggigit tersebut adalah jenis ular yang mempunyai bisa neurotoxin ,dimana pengaruh dari racun ini adalah terkadang tidak menimbulkan rasa sakit tetapi menyerang susunan saraf sehingga menimbulkan rasa kecapean,ngantuk tertidur untuk tidak terbangun lagi Contoh ular yang memiliki neorotoxin adalah ular weling ( bungarus candidus ) dengan warna belang hitam - putih.Sedangkan ular yang memiliki bisa hemotoksin seperti ular hijau ekor merah ( trimeresurus albolabris) cenderung lebih mudah dilakukan pertolongan.
Karena itu pengetahuan tentang jenis-jenis ular terutama yang berbisa sangat penting dan cara penanganan P3K juga perlu lebih disosialisasika.Perlu adanya yayasan atau rumah sakit yang secara khusus care tentang masalah ini terutama di daerah-daerah yang rawan dengan ular berbisa spt; papua dan sekitarnyaAkan banyak nyawa yg akan tertolong jika ketersediaan anti bisa, harga terjangkau dan orang/dokter yang ahli di bidang ini.
Metode lama dalam pertolongaan pertama yang masih dipakai adalah memasang torniquet,suction dengan alat atau menggunakan mulut (biasanya terinspirasi dari menonton film yang bertemakan petualangan), pemberian bahan – bahan kimia yang semuanya sebenarnya merupakan kontra indikasi.
Seandainya bila anti venom tidak tersedia ditempat tersebut. ini tidak menjadi kendala asal luka telah dibersihkan.

Managemen untuk gigitan ular
1.      selalu mengasumsikan bahwa semua gigitan ular dapat mengancam kehidupan.
2.      bila melakukan triage kasus gigitan ular maka selalu dimasukkan kedalam katagori emergency.
3.      pasang iv line pada semua kasus.
4.      berhati – hati ketika memilih lokasi pemasangan iv line atau pengambilan sample darah pada kasus koagulopahty, yang betujuan untuk mencegah pendarahan. Khususnya pada pembuluh darah subclavia, jugular,femur.
5.       hindari melakukan penyuntikan intra muscular jika memungkinkan terjadinya coagulopathy.
6.      lakukan pemeriksaan whole blood clotting time ( WBCT)
7.      jika terjadi gangguan pada pernafasan akibat paralysis, persiapkan untuk intubasi dan pemasangan ventilator eksternal.
8.      jika terjadi shock, tangani dengan pemberian cairan.
Tips yang dapat dilakukan:
Usahakan membunuh ular yang mengigit anda untuk memudahkan identifikasi ular dalam pemberian anti venom. Ketika membunuh ular tersebut jangan sampai anda tergigit lagi oleh ular tersebut.
Untuk membedakan antara ular berbisa dengan tidak adalah dengan melihat bekas gigitan. Gigitan yang terdiri dari 2 lubang gigitan layaknya gigitan vampire menandakan ular tersebut memiliki racun (Bisa), sedangkan gigitan yang membentuk setengah lingkaran cenderung tidak berbisa.
























KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
PADA SENGATAN DAN GIGITAN ULAR


PENGKAJIAN
Pada sengatan serangga mungkin ditemukan :
~        Mendesah
~        Sesak nafas
~         Tenggorokan sakit atau susah berbicara
~         Pingsan atau lemah
~         Infeksi
~        Kemerahan
~        Bengkak
~         Nyeri
~        Gatal-gatal di sekitar area yang terkena gigitan
Pada gigitan ular dapat ditemukan data :
~        Tampak kebiruan
~        Pingsan
~        Lumpuh
~        Sesak nafas
~        syok hipovolemik
~        nyeri kepala
~        mual dan muntah
~        nyeri perut
~        diare
~        keluarnya darah terus menerusdari tempat gigitan
~        flaccid paralysis
~        Miotoksisitas

DIAGNOSA KEPERAWATAN
ü      Nyeri berhubungan dengan proses toksikasi
ü      Syok berhubungan dengan tidak adekuatnya peredaran darah ke jaringan
ü      Rasa gatal, bengkak dan bintik – bintik merah berhubungan dengan proses inflamasi
INTERVENSI
à        Nyeri berhubungan dengan proses toksikasi
Tujuan : Meredakan nyeri
Intervensi
1.      Sengat kalau masih ada dicabut dengan pinset
R/ : mengeluarkan sengat serangga yang masih tertinggal
2.      Berikan kompres dingin
R/ : meredakan nyeri dan mengurangi bengkak
3.      Lakukan tehnik distraksi relaksasi
R/ : mengurangi nyeri
4.      Kolaborasi dalam pemberian antihistamin seperti diphenhidramin (Benadryl) dalam bentuk krim/salep atau pil, losion Calamine
R/ : mengurangi gatal – gatal

à        Syok berhubungan dengan tidak adekuatnya peredaran darah ke jaringan
Tujuan : Menangani penyebab, Memperbaiki suplai darah ke jaringan
Intervensi
1.      Atasi setiap penyebab shock yang mungkin dapat di atasi(perdarahan luar)
R/: Mengurangi keparahan
2.      Pasien dibaringkan kepala lebih rendah.
R/: Kepala lebih rendah supaya pasien tidak hilang kesadaran
3.      Kaki di tinggikan dan di topang
R/: Meningkatkan suplai darah ke otak
4.      Longgarkan pakaian yang ketat atau pakaian yang menghalangi
R/: Sirkulasi tidak terganggu
5.      Periksa dan catat pernapasan nadi dan tingkat reaksi tiap 10 menit
R/: Mengetahui tingkat perkembangan pasien

à        Rasa gatal, bengkak dan bintik – bintik merah berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan : Mencegah peradangan akut
Intervensi
1.      Pasang tourniket pada daerah di atas gigitan
R/: Mencegah tersebarnya racun ke seluruh tubuh
2.      Bersihkan area yang terkena gigitan dengan sabun dan air untuk menghilangkan partikel yang terkontaminasi oleh serangga (seperti nyamuk).
R/:  Untuk menghindari terkontaminasi lebih lanjut pada luka
3.      Kolaborasi dalam pemberian antihistamin dan serum Anti Bisa Ular (ABU) polivalen i.v dan disekitar luka. ATS dan penisilin procain 900.000 IU
R/: Mencegah terjadinya infeksi